
Indonesia sebagai pengguna Facebook terbanyak kedua di dunia selama beberapa tahun tergusur. India kini menduduki peringkat kedua dengan 43,5 juta pengguna, selisih 400 ribu anggota dibanding Indonesia. Sedangkan pendaftar facebook terbesar masih berasal dari Amerika, 153 juta.
Lembaga riset sosial media, socialbakers mencatat Indonesia tetap mengalami peningkatan 3 persen jumlah pengguna Facebook. Selama 2011, penduduk Facebook asal Indonesia mencapai 43,06 juta. Sedangkan India melesat 5 persen sehingga pendaftar facebook-nya menyalip indonesia. Selama enam bulan, pengguna Facebook Indonesia bertambah 3,9 juta, sedangkan India 11,5 juta.
Facebook kini memiliki 800 juta penduduk. Hampir separuh penghuni ini aktif mengupadate laman setiap hari. Kalau dirata-rata, setiap pengguna memiliki 130 teman. Penghuni Facebook diperkirakan akan tembus 1 miliar pertengahan 2012 ini. (baca : Jika Facebook Jadi Negara).
Indonesia masih bisa merebut kembali posisi terbesar kedua karena lonjakan pemakai internet. Socialbakers mencatat penetrasi Facebook di Indonesia 17,72 persen dibandingkan dengan jumlah pemakai internet yang melonjak hingga 143,53 persen. Sedangkan India penetrasi Facebook-nya 3,71 persen dibandingkan pemakai internet yang naik 53,7 persen.
Pemakai facebook di Indonesia didominasi usia 18-24 tahun, 42 persen. Selanjutnya 25-34 tahun sebanyak 21 persen dan 16-17 tahun 15 persen. Facebook di Indonesia juga diserbu remaja usia 13-15 yang memiliki porsi 12 persen. Penduduk facebook Indonesia memiliki jenis kelamin hampir berimbang, laki-laki 59 persen dan perempuan 41 persen.
Dalam data Soacialbakers, pertumbuhan terbesar berasal dari Peru 30,36 persen. Selanjutnya Jepang 8 persen, Brasil 7,84 persen dan India 5,07 persen. Sedangkan penurunan terbesar terjadi di Cina dengan 41 ribu akun dalam seminggu dan Siprus dengan 30 ribu akun.
Senin, 19 Maret 2012
Indonesia Menjadi Penduduk Terbesar Ketiga di Facebook
15 Orang Terpopuler di Facebook

Situs jejaring sosial Facebook memiliki hampir semiliar pendaftar di dunia. Sejumlah selebritas, artis sampai politikus, berupaya memanfaatkan Facebook untuk menjaga ketenarannya. Siapa paling artis Facebooker paling tenar di dunia?
Situs Huffingtonpost membuat kategori populer berdasarkan banyaknya pengunjung yang menekan tombol "like". Eminem ternyata melesat di urutan pertama mengalahkan penyanyi legendaris seperti Michael Jackson serta pesepakbola Cristiano Ronaldo.
Berikut adalah nama-nama 15 orang terpopuler di Facebook:
1. Eminem, penyanyi rap kulit putih dan produser ini pad alaman Facebook memiliki "likes" terbanyak di Facebook yakni lebih dari 54,64 juta likes.
2. Rihanna, penyanyi berusia 24 tahun ini menduduki peringkat kedua dengan jumlah likes sebanyak lebih dari 53,4 juta pengguna.
3. Lady Gaga, artis dengan follower terbanyak di dunia Twitter, mendapat 49,22 juta likes di laman Facebooknya.
4. Shakira, penyanyi Latin ini disukai lebih dari 47,94 juta pengguna Facebook.
5. Michael Jackson "King of Pop" disukai lebih dari 46,65 penggemarnya di Facebook.
6. Justin Bieber, penyanyi yang tenar di kalangan remaja putri, mendapat lebih dari 41,37 juta likes.
7. Cristiano Ronaldo, pemain Real Madrid asal Portuga ini mendapat 41,37 juta likes.
8. Penyanyi pop Katy Perry disukai lebih dari 40,96 juta orang.
9. Musisi Reggae legendaris Bob Marley disukai penggemarnya lebih dari 33,37 juta.
10. Penyanyi RnB asal Senegal Akon yang disukai lebih dari 36,9 juta pengguna Facebook.
11. Rapper Lil Wayne mendapat 36 juta likes.
12. Beyonce, penyanyi yang baru memiliki buah hati ini, mendapat lebih dari 33,61 juta likes.
13. Lionel Messi, pemain sepak bola Argentina ini, disukai lebih dari 33,12 juta pengguna Facebook.
14. Megan Fox memiliki lebih dari 32,29 juta likes.
15. Avril Lavigne memiliki lebih dari 31,38 juta likes di akunnya.
Jika Facebook Menjadi Sebuah Negara

Coba bayangkan, apa jadinya kalau Facebook menjadi negara? Maka pendiri Mark Zuckerberg tentu akan menjadi manusia "setengah dewa", karena menguasai negara terbesar ketiga dunia. Rakyatnya adalah penghuni Facebook yang jumlahnya sekitar empat kali penduduk di Indonesia.
Saat ini jumlah "penduduk aktif" facebook mencapai 800 juta orang. Agensi pemasaran iCrossing memprediksi Facebook bakal menembus angka 1 miliar pengguna pada pertengahan tahun 2012.
Saat ini, negara dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Cina, yakni sekitar 1,3 miliar penduduk dan India 1,07 miliar jiwa dan Amerika Serikat 293 juta jiwa. Indonesia berada di urutan keempat negara dengan jumlah penduduk terbesar, yakni 241 juta jiwa. Mudah saja Facebook melewati angka statistik negara dengan jumlah penduduk terbesar tersebut.
Darimana dalil iCrossing memperkirakan ledakan penduduk facebook tersebut? "Dengan menggunakan fungsi regresi linear dari data sejak 2008, kami meyakini Facebook akan mencapai angka satu miliar pada Agustus 2012," tulis agensi itu dalam situs iCrossing.
Pada 2006 hingga 2008, Facebook mengalami pertumbuhan pesat. Namun belakangan ini pertumbuhannya cenderung melambat. Di negara yang lebih dahulu mengadopsi jejaring sosial ini seperti Amerika atau Inggris, pertumbuhan Facebook dapat dikatakan melambat bahkan berhenti.
Sebaliknya, di negara berkembang seperti Indonesia, India dan Brasil, Facebook menguasai tujuan pengguna Internet. Dari data CheckFacebook penduduk maya masih dikuasai Amerika Serikat 157.418.920. Hebatnya, Indonesia bertengger di posisi kedua dengan jumlah pemilik Facebook 41.777.240. Selanjutnya India 41.399.720, Brazi 35.157.560 dan Mexico 30.989.300
Dengan pesatnya penghuni Facebook bisa jadi kerajaan Zuckerberg ini akan menjadi negara terbesar ketiga di dunia. Bukan tak mungkin, tahun depan akan menjadi "negara" terbesar. Mungkin yang akan menjadi saingan adalah twitter. bagaimana tidak, akun Lady Gaga, Justin Bieber and Britney Spears sudah melebihi penduduk Korea Utara, Australia, Cile, Israel, Swedia, serta Yunani.
Minggu, 04 Maret 2012
Merokok Itu Keren !!?? KEBOHONGAN TERBURUK !!

Siapa bilang merokok itu keren? Anda yang beranggapan seperti itu, pasti sudah termakan oleh propaganda iklan produk rokok.
Perusahaan rokok sering membangun kesan bahwa merokok itu keren, seperti koboy, tangguh, berani, gentle dan disukai wanita.
Produsen rokok tak hanya telah meracuni akal sehat masyarakat tetapi juga meracuni paru-paru konsumennya dengan zat adiktif nikotin dari produknya.
Bodohnya lagi, para perokok rela hidup miskin demi gulungan tembakau yang tak dapat ditemukan dimana nilai manfaatnya itu.
Padahal para perokok pemula tak ada yang mengaku bahwa alasan mencoba rokok karena kepincut nikmatnya menghisap asap nikotin tersebut.
Bahkan, dibutuhkan berulangkali percobaan hingga ditemukan kenikmatan saat mengaktifkan sel-sel kanker (baca: merokok).
Usia remaja adalah masa yang rentan aksi coba-coba termasuk memulai mencoba rokok dengan alasan yang teramat sederhana, demi gaya.
Mereka merasa merokok adalah cara menandai sebuah kematangan dan kedewasaan usia. Di kalangan lain, banyak lagi alasan mengapa orang bersedia mengasapi rongga pernafasannya dengan racun.
Di lingkungan masyarakat miskin, alasan merokok biasanya karena dianggap sebagai penghilang stres atas tekanan hidup yang mereka alami.
Pada golongan orang mapan, ritual merokok biasanya menjadi sarana pergaulan. Sedangkan kaum hawa yang turut serta merokok umumnya karena alasan gaya dan kelompok lain sebagai pelarian akibat frustasi.
Itulah sederetan alasan orang merokok, yang tidak satupun dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah, ekonomi dan apalagi medis.
Namun begitu, si pencemar paru-paru dan pengaktif sel kanker ini tetap mendapat banyak penggemar. Dari 240 juta penduduk Indonesia, 64 juta diantaranya adalah perokok, atau dua dari tiga pria dewasa adalah perokok.
Angka ini belum termasuk perokok dari kalangan anak-anak dan perempuan. Fakta ini menempatkan Indonesia pada ranking ke 3 di dunia dengan jumlah perokok terbanyak.
Di berbagai negara berkembang, perokok lebih mewakili perilaku kalangan miskin, pendidikan rendah dan orang-orang yang abai terhadap kesehatan.
Dan Indonesia kaya akan penduduk berkategori tersebut, maka bisa dimengerti kenapa jumlah perokok di negara ini begitu besarnya.
Masyarakat Indonesia adalah pasar yang sangat potensial bagi industri rokok, karena kelompok pendidikan rendah dan miskin menjadi obyek yang paling mudah diperdayai oleh propaganda.
Tak heran jika perusahaan rokok berlomba-lomba mencipta iklan semenarik mungkin untuk menggaet para korbannya.
Entah kenapa, peringatan bahaya merokok dalam kemasan rokok tidak juga mampu mengendurkan niat orang untuk mengisapnya.
Padahal, apa kerennya merokok? Bahaya rokok yang dapat merusak jantung, paru dan otak sudah banyak diketahui orang.
Dan tahukah anda, efek merokok juga membuat orang buruk rupa dan tampak lebih tua dibanding usia sesungguhnya.
Menurut dokter spesialis kulit M. Nasser akibat merokok dapat membuat lebih banyak kerutan di wajah, garis kerutan di sekitar bibir dan bintik-bintik penuaan.
Efek rokok, kata dia, juga merusak gigi, kulit dan payudara kendur, menimbulkan kebotakan dini serta berpotensi mengembangkan katarak yang bisa berujung kebutaan.
Bahkan tanpa riset dan penjelasan medis pun, efek buruk merokok juga tampak secara kasat mata, mulai dari bibir yang menghitam, muka kusam dan bau `apek¿. Lalu dimana letak `kerennya si perokok? tapi katakan tidak pada rokok.
Bikin Miskin
Kalau ada barang konsumsi yang bikin orang miskin, rokok adalah salah satunya. Hasil riset Badan Pusat Statistik dari tahun ke tahun mencatat, rokok menjadi pengeluaran terbesar kedua masyarakat miskin, setelah beras.
Data terbaru BPS menyebutkan masyarakat miskin di kota menghabiskan 25,44 persen penghasilannya untuk membeli beras dan 7,7 persen untuk membeli rokok.
Sedangkan belanja beras masyarakat desa sebesar 32,81 persen dan 6,3 persen untuk rokok. Angka pengeluaran rokok rakyat miskin ini lebih besar daripada pengeluaran mereka untuk kesehatan dan pendidikan.
Pada skala negara, data dari hasil Riset Kementerian Kesehatan RI beberapa tahun lalu ini pasti mencengangkan.
Indonesia mengkonsumsi 240 miliar batang rokok per tahun atau sama dengan 658 juta batang rokok per hari, jumlah ini senilai uang Rp330 miliar rupiah "dibakar" oleh para perokok Indonesia setiap hari.
Bila dihitung setahun jumlahnya akan mencapai 118 triliun atau lebih dari 10 persen APBN. Sesuai data dari BPS, temuan dari riset ini lebih mengejutkan dimana prevalensi pengeluaran rumah tangga di Indonesia untuk rokok adalah 11,5 persen, jauh diatas pengeluaran untuk pendidikan yang hanya 3,2 persen dan apalagi jika dibandingkan untuk kesehatan 2,3 persen.
Maka tidak heran kalau banyak anak-anak putus sekolah tetapi orangtuanya mampu membeli rokok. Hitungan sederhananya, jika sehari seorang ayah di pedesaan membeli sebungkus rokok Rp7.500 maka dalam sebulan ia membelanjakan Rp225.000.
Angka ini tentu lebih bermanfaat untuk menyelamatkan sekolah seorang anak SD. Dan berapa juta orang tua yang egois tidak bisa putus dari rokok dan terpaksa anaknya yang putus dari sekolah?
Masih banyak orang yang menganggap sederhana persoalan rokok ini tapi pada kenyataannya dampaknya tidak sesederhana itu.
Penelitian dari Lembaga Demografi UI (2010) menyimpulkan bahwa rokok adalah jebakan kemiskinan (poverty trap).
Akibat konsumsi rokok ini, banyak orang miskin di Indonesia tidak pernah memiliki rumah hingga puluhan tahun, bahkan hingga tutup usia.
Konsumsi rokok juga mengurangi jatah kebutuhan nutrisi untuk anak-anak dari total pendapatan keluarga miskin.
Akibatnya, negeri dengan prevalensi rokok terbesar di Asia Tenggara ini menghasilkan generasi yang malnutrisi dan melemahkan produktivitas SDM untuk pembangunan.
Regulasi
Ketiadaan regulasi pembatasan rokoklah yang membuat industri berkembang pesat tanpa batas. Menurut Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi pada Undang-undang No. 39 Tahun 2009 ayat yang menyebutkan tembakau sebagai zat adiktif sempat dihilangkan.
"Ayat tembakau tidak mungkin hilang dengan sendirinya dari naskah Undang-Undang Kesehatan. Itu pasti disengaja," katanyanya.
Kasus penghilangan ayat soal tembakau pada Undang-Undang Kesehatan, kata Tulus, merupakan kejahatan sistematis yang direncanakan.
Tapi usai hilangnya ayat tembakau kabar gembiranya Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui tembakau sebagai zat adiktif.
"Sebagai Menteri Kesehatan tentu saja saya sepakat rokok adalah zat adiktif. Sedangkan RPP nya nanti akan keluar, masih kita proses," ujar Endang.
Agar Indonesia tak lagi dijuluki sebagai "Negeri Asbak Rokok" maka peredaran tembakau harus dikendalikan.
Selain UU menetapkannya sebagai zat adiktif, cara berikutnya adalah dengan menaikkan cukai setinggi mungkin.
Dengan begitu barang beracun itu tak lagi terjangkau bagi remaja dan orang-orang miskin, kalangan yang musti dilindungi.
Sumber : ANTARA BENGKULU