Jumat, 04 November 2011

KEANEKARAGAMAN BUDAYA INDONESIA Oleh Panca Hari Prabowo

Keanekaragaman budaya merupakan salah satu aset Indonesia yang dikagumi oleh dunia bahkan beberapa diantaranya sudah masuk sebagai warisan budaya dunia yang diakui dan tercatat di badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan dan Pendidikan (UNESCO).

Wayang, keris, batik dan angklung telah diakui badan tersebut sebagai salah satu warisan budaya atau Representative List of Intangible Cultural Heritage. Sementara Candi Prambanan, Candi Borobudur, situs Manusia Purba Sangiran, Taman Hutan Tropis Sumatera, Taman Nasional Ujungkulon, Taman Nasional Komodo, dan Taman Nasional Lorentz mendapat bantuan untuk perawatannya dari UNESCO.

Keberagaman budaya dan juga situs-situs budaya yang dimiliki oleh Indonesia tersebut merupakan salah satu modal utama Indonesia menjadi sebuah negara yang dipandang penting khususnya untuk upaya-upaya pemelihataan, pelestarian dan pengembangan sektor-sektor berbasis budaya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat kesempatan sebagai salah satu pembicara dalam sesi khusus di UNESCO yang bermarkas besar di Paris, Prancis dalam peringatan 10 tahun Deklarasi Universal Keragaman Budaya (Universal Declaration on Cultural Diversity) pada Selasa (2/11).

"Indonesia dipilih untuk menyampaikan pidato utama karena mereka menilai Indonesia memiliki contoh budaya yang amat beragam ...yang pada akhirnya menjadi kekuatan," kata Presiden di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin, sebelum bertolak menuju Prancis.

Selain berbagi pengalaman di sidang UNESCO, Indonesia, kata Presiden juga menyampaikan imbauan agar dunia lebih bersatu, menghormati perbedaan budaya dan peradaban sehingga dapat mengatasi persoalan global dengan baik.

Kepala Negara mengatakan saling menghormati dan menghargai perbedaan budaya dan peradaban tersebut dapat menjadi salah satu kunci atau alternatif penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik di kawasan maupun secara global.

Yudhoyono juga mengatakan UNESCO mengetahui bahwa bagaimana mengelola dan memelihara keragaman budaya itu tidak mudah sehingga memandang Indonesia sebagai salah satu negara yang berhasil dalam mengembangkan dan melestarikan hal tersebut.

"Mereka tahu managing diversity(menangani keanekaragaman, red) bukan sesuatu yang mudah dan apa saja yang dilakukan dalam kaitan itu," ujarnya.

Sementara Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah mengatakan kesempatan Indonesia menyampaikan pandangan dalam sesi khusus peringatan deklarasi keberagaman budaya merupakan pengakuan dunia terhadap mata budaya yang dimiliki dan dilindungi oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia.

"Partisipasi Presiden Yudhoyono dalam acara UNESCO ini memberikan kesempatan untuk meningkatkan peran aktif Indonesia, sebagai 'bridge-builder'(membangun" jembatan" atau cara, red) dan 'solution maker'(pembuat jalan keluar, red) dalam upaya mengatasi konflik melalui kerja sama antarbudaya," katanya.

Ia menambahkan,"undangan kepada Presiden RI tersebut merupakan wujud apresiasi UNESCO terhadap komitmen Pemerintah Indonesia dalam upaya melindungi dan mempromosikan keanekaragaman budaya sebagai "aset yang terus
hidup" (living assets)."

UNESCO
United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) merupakan organ Perserikatan Bangsa-Bangsa yang didirikan pada 16 November 1945 melalui penandatanganan konstitusi UNESCO oleh 37 negara. Konstitusi itu sendiri baru berlaku pada 1946 setelah Yunani menjadi negara ke-20 yang meratifikasinya.

Badan PBB itu mempunyai tujuan untuk menciptakan perdamaian melalui pengetahuan dengan melaksanakan strategi yang berdasarkan prinsip dan norma universal serta nilai-nilai bersama di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya dan komunikasi/informasi.

Strategi dasar UNESCO dalam menjalankan misinya tersebut adalah dengan membuka jalan menuju ilmu pengetahuan serta memperluas komunikasi dan saling pengertian diantara sesama manusia.

Strategi dasar yang digunakan UNESCO adalah membuka jalan menuju ilmu pengetahuan serta memperluas komunikasi dan saling pengertian diantara sesama manusia.

UNESCO sendiri memiliki dua tujuan utama yaitu melindungi dan mempertahankan promosi keragaman berdasarkan hak asasi manusia dan yang kedua adalah mendorong pemberdayaan dan partisipasi dalam lingkungan masyarakat berpengetahuan, melalui pemerataan, peningkatan dan penyebaran penggunaan pengetahuan.

Saat ini badan PBB tersebut memiliki 193 negara anggota dan tujuh asosiasi internasional. Setiap negara anggota membentuk komisi nasional serta badan kerja sama bagi lembaga pemerintahan dan
lembaga swadaya serta dengan organisasi. Sebagian negara menempatkan perwakilan tetapnya yang dipimpin Duta Besar sebagai penghubung.

Indonesia sendiri menjadi anggota badan PBB tersebut pada 27 Mei 1950. Pada awalnya Kepala Kantor Wakil RI pada UNESCO dirangkap oleh duta besar RI untuk Prancis. Pada 1956 pejabat yang ditunjuk mewakili RI diparcayakan pada atase pendidikan dan kebudayaan, Kemudian pada 1968 sampai 1972 jabatan itu kembali dirangkap oleh duta besar.

Dengan peningkatan keterlibatan Indonesia dalam berbagai program UNESCO termasuk pemugaran Candi Borobudur maka pada 1972 pemerintah mengangkat wakil RI untuk UNESCO dengan gelar Duta Besar, agar penanganan masalah-masalah UNESCO terutama yang berkaitan dengan kepentingan RI dapat dilakukan dengan baik.

Pada Oktober 2011, Duta Besar RI untuk Prancis Rezlan Ishak Jenie ditunjuk sebagai wakil tetap RI di UNESCO.

Baca Selengkapnya

GEJOLAK PAPUA YANG TAK KUNJUNG USAI Oleh Maria Rosari Dwi Putri

Alam Papua begitu hijau dan kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah. Namun ironisnya mayoritas masyarakat di provinsi itu diselimuti oleh kabut kemiskinan.

Miris, karena bukan hanya masalah kesejahteraan yang melanda. Berbagai masalah yang kelihatannya begitu rumit untuk diselesaikan, juga masih mendera Bumi Cendrawasih itu.

Begitu banyak spekulasi dan pendapat bermunculan tentang pokok masalah, yang menyebabkan segalanya tampak begitu rumit untuk diselesaikan.
"Permasalahan Papua sebenarnya berakar dari berbagai pengalaman traumatis yang disebabkan oleh ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia," kata mantan Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu di Jayapura, Rabu (2/11).
Pendapat serupa muncul dari tokoh muda Papua Edo Kondologit, yang juga merupakan seorang penyanyi.

"Orang Papua harus dipandang sebagai anak bangsa juga. Janganlah pilih kasih".

Menurut Edo, pembangunan di Papua masih jauh dari layak. Selain itu, pembangunan tersebut dikatakan tidak memihak kepada rakyat Papua. Hal tersebut ia sampaikan pada sebuah diskusi di Jakarta pada Selasa (1/11).

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat asal Papua, Manuel Kaisepo, menilai gejolak, konflik dan KEKERASAN DI PAPUA adalah ekspresi kekecewaan masyarakat akibat tidak terlaksananya Undang-Undang Otsus dengan konsisten.

"Semua gejolak, konflik dan kekerasan di Papua adalah ketidakpuasan atau kekecewaan masyarakat akibat tidak terlaksananya (Otsus) dengan konsekuen dan konsisten," kata Manuel Kaisepo di Jayapura, Senin (31/10)
Sementara itu Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menuturkan, persoalan di Papua bukan sekadar persoalan masalah hukum dan keamanan yang dapat diselesaikan dengan kebijakan mengerahkan kekuatan militer di wilayah itu.

"Itu salah besar. Jika ada penekanan terhadap masalah penegakan hukum, itu karena masih terjadi gangguan keamanan yang korbannya adalah rakyat dan aparat," katanya dalam perbincangan dengan ANTARA di Jakarta, Rabu (2/11).

Ia menegaskan, persoalan Papua bukan sekadar urusan TNI dan Polri yang jika ada tindakan kriminal atau gangguan keamanan di wilayah itu, lalu dibuat kebijakan untuk menambah personel aparat.

Menko Polhukam menambahkan, Papua tidak hanya Jayapura, Abepura, Puncak Jaya dan Timika, tetapi lebih banyak lagi dan lebih besar. Sama dengan wilayah lain di Tanah Air, maka Papua harus dilihat secara utuh dan pemerintah serius pula untuk mengelola Papua.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyimpulkan permasalahan Papua, dengan memberikan pernyataan bahwa ada empat masalah mendasar yang dihadapi Papua untuk diselesaikan.

"Empat masalah mendasar itu adalah gerakan yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kedua konflik manajemen PT Freeport Indonesia dengan karyawannya, disparitas ekonomi dan pilkada," katanya di Jakarta, Kamis.

Berbicara saat membuka diskusi tentang perkembangan situasi keamanan Papua, ia mengatakan di antara empat masalah krusial tersebut, masalah gerakan yang ingin membebaskan diri dari NKRI, merupakan persoalan yang cukup rawan mengingat terkait dengan masalah kedaulatan negara.


Otsus Papua

Pada tahun 2001 pemerintah pusat membuktikan keseriusannya dalam mengurus dan mengelola Papua. Bentuk keseriusan dan kepedulian tersebut adalah dengan penerapan otonomi khusus sesuai UU No21/2001 dan percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat sesui Inpres No5/2007. Saat ini undang-undang tersebut sering kali disebut dengan Otsus.

Namun, bila otsus berjalan dengan baik, mengapa sekarang Papua masih terus dilanda kemiskinan dan pembangunan tidak berjalan dengan semestinya? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Otsus Papua sebenarnya dirancang dan dibuat dengan sangat baik. Namun sayangnya tidak dilaksanakan dengan konsisten," ujar mantan Ketua Pansus RUU Otonomi Khusus Papua di DPR, Ferry Mursidan Baldan, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (1/11).

Sependapat dengan Ferry, pengamat politik CSIS (Centre for Strategic of International Studies) Joseph Kristiadi mengatakan bahwa Otsus sudah dirancang sebaik mungkin. Namun harus ada niat baik dari pemerintah agar tidak hanya sekedar pencitraan saja, kata Kristiadi.

"Pada masa Otsus berlangsung, telah terjadi korupsi yang luar biasa, sehingga orang Papua mengatakan bahwa otsus identik dengan korupsi," ujar Kristiadi di Jakarta, Kamis (3/11).

Tokoh masyarakat Papua sekaligus Menteri Lingkungan Hidup Balthasar "Berth" Kambuaya, meminta konsistensi pemerintah pusat dalam menjalankan Undang-undang Otonomi Khusus (Otsus) sebagai salah satu jalan keluar dari permasalahan yang terjadi di Papua.

"Pemerintah pusat harus betul-betul berkomitmen untuk melaksanakan undang-undang itu," ujar Kambuaya saat jumpa pers, usai pertemuan khusus yang dilakukan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dengan para pejabat dan pakar politik dan keamanan di Jakarta, Kamis (3/11).

Ia mengatakan masih banyak hal-hal yang bergantung pada pemerintah pusat mengenai UU Otsus. Namun, Kambuaya juga mengimbau masyarakat Papua untuk bersama-sama berkomitmen pula dalam pelaksanaan UU tersebut.

Harus ada kesiapan masyarakat Papua dalam kapasitas kepemimpinan dan komitmen dalam melaksanakan UU Otsus tersebut. Hal ini terjadi karena Otsus adalah UU alternatif, sebagai bukti dari komitmen pemerintah pusat untuk membangun Papua, ujar Kambuaya.

"Ini adalah UU terbaik yang bisa memberi jawaban secara khusus, untuk masalah ekonomi dan kesejahteraan di Papua".

Persoalan yang terjadi saat ini adalah, bila UU tersebut dinyatakan tidak berhasil, maka hal itu akan kembali kepada orang Papua sendiri, untuk mendiskusikannya.

"Hal ini ditempuh orang-orang Papua, sehingga bisa melaksanakan UU dengan baik," ujar Kambuaya.

Menurut Kristiadi, indikasi pemerintah yang serius dalam menangani kasus Papua adalah dengan segera membuat Peraturan-peraturan Pemerintah, yang dapat dijadikan sebagai instrumen untuk melaksanakan Otsus Papua.

"Otsus setiap satu atau dua tahun sekali harus dievaluasi kembali," tambahnya.

Kristiadi mengimbau masyarakat dan media supaya memiliki rasa kewajiban, melalui mekanisme dan pelaksanaan demokratis, untuk menekan pemerintah agar betul-betul jujur memulai menyelesaikan permasalahan ini dengan niat yang baik.


Penyelesaian Damai

Pengamat politik sekaligus Ketua Setara Institut, Hendardi, mengatakan bahwa permasalahan yang terjadi di Papua harus diselesaikan melalui jalan damai, sehingga tidak ada alasan pemerintah untuk menggunakan cara kekerasan.

Hendardi menekankan yang terpenting adalah peran pemerintah yang memiliki keberanian politik untuk menghadapi masyarakat Papua dengan melakukan dialog bersama.

Ia juga meminta pemerintah untuk segera menghentikan segala bentuk kekerasan di Papua dan menegakkan hukum terhadap seluruh aksi kekerasan yang terjadi di provinsi itu.

"Meningkatnya kekerasan di Papua, menunjukkan pemerintah tidak selesaikan masalah secara damai," ujarnya dalam diskusi bertema" Kabinet Boros dan Bobrok Percepat Disintegrasi NKRI, bertempat di Rumah Perubahan 2.0" di Jakarta, Selasa (1/11).

"Harus ada pemutusan siklus kekerasan," kata Hendardi menambahkan.

Hal serupa juga dikatakan oleh Barnabas Suebu yang mengimbau aparat keamanan agar dapat menangani permasalahan di Papua secara bijaksana dengan menggunakan cara-cara damai.

"Kekerasan harus dicegah, terutama kekerasan kepada mereka yang tidak bersalah," ujarnya.

Bentuk penyelesaian damai juga diminta oleh Komite Solidaritas Papua melalui sekretarisnya Petrus Mike.

"Apa yang salah dengan kami (rakyat Papua), sehingga pemerintah tidak mau berdialog bersama kami," ujar sekretaris KSP Petrus Mike, saat jumpa pers di Jakarta, Rabu (2/11).

Petrus meminta agar pemerintah dapat melakukan upaya pendekatan secara adat dan spiritual.

Sementara itu, Kepolisian Republik Indonesia dan TNI menyatakan tetap mengedepankan pendekatan persuasif untuk mengatasi berbagai konflik serta persoalan lainnya di Papua yang kian menghangat akhir-akhir ini.

"Kami, Polri dan TNI tetap mengedepankan langkah-langkah persuasif untuk menghadapi berbagai aksi kekerasan dan kriminal di Papua," kata Kepala Bagian Pemeliharaan Keamanan Mabes Polri Komjen Pol Imam Sujarwo usai menghadiri diskusi perkembangan terakhir situasi keamanan di Papua di Jakarta, Kamis (3/11).

Ia menuturkan jumlah personel Polri di Papua mencapai 6.000 orang dengan bantuan personel Brimob sebanyak tiga SSK.

Baca Selengkapnya

Kamis, 03 November 2011

MELIHAT LIMA KARYA AGUNG DI MUSEUM SULTENG

Setiap museum pada umumnya memiliki koleksi karya agung (masterpiece) yang menjadi kebanggaan untuk dipamerkan kepada pengunjung.

Demikian halnya dengan Museum Sulawesi Tengah. Museum yang terletak di Kota Palu ini memiliki lima masterpiece yang berasal dari sejumlah daerah di Provinsi Sulawesi Tengah. (Bagai mana dengan museum daerah saya) Lihat DISINI.
Dan Museum Indonesia Lihat DISINI

Kepala Museum Sulawesi Tengah, Muslimah, di Palu, Selasa, menyebutkan kelima koleksi unggulan itu adalah kain tenun Donggala, pakaian kulit kayu, patung Palindo, taiganja, dan fosil rahang gajah.
Tenun Donggala adalah kain tradisional khas Sulawesi Tengah yang sudah dikenal luas masyarakat di Indonesia. Kain tenun ikat asal Kabupaten Donggala itu pada umumnya bermotif kotak-kotak yang bermakna saling memegang keutuhan dan kebersamaan.

Selain itu, terdapat motif lungsih berupa gambaran nekara yang disusun secara geometris yang juga menggambarkan kebersamaan.

"Kain itu biasanya digunakan pada upacara perkawinan adat atau hari-hari besar keagamaan," kata Muslimah.

Selanjutnya koleksi kain kulit kayu. Kain ini terbuat dari kulit pohon malo atau sebangsa pohon beringin (ficus sp). Kain itu berupa lembaran kulit pohon yang ditumbuk hingga tipis dan selanjutnya dibuat pakaian atau aneka busana lainnya.

Tradisi pembuatan kain kulit kayu ini berada di Kecamatan Kulawi dan Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi sejak ratusan tahun silam. Kain tersebut hanya digunakan untuk kegiatan adat.

"Kalau diguanakan sehari-hari bisa rusak, karena bahannya mudah sobek," kata Muslimah.

Koleksi selanjutnya adalah patung Palindo (penghibur). Patung setinggi empat meter itu berada di situs padang Sepe di Lembah Bada, Kabupaten Poso.

Patung Palindo menggambarkan dan berceritera tentang nenek moyang masyarakat Lembah Bada. Patung Palindo adalah perwujudan pahlawan bernama Tosalogi yang merupakan pemimpin perang masyarakat Bada melawan orang Masamba, Sulawesi Selatan, ribuan tahun silam.

Patung terbuat dari batu itu saat ditemukan kondisi patung batu itu miring sekitar 30 derajat.

Koleksi masterpiece selanjutnya adalah Taiganja. Benda ini berupa perunggu berbentuk menyerupai kepala kerbau di mana pada bagian tengahnya terdapat celah sempit menyerupai alat kelamin wanita.

Perhiasan ini digunakan sebagai mahar pengantin atau bekal kubur masyarakat Kaili, suku terbesar di Sulawesi Tengah.

"Benda ini juga merupakan bukti status sosial masyarakat yang lebih tinggi," kata Muslimah.

Taiganja yang dalam bahasa Kaili berarti manusia melambangkan kesuburan, kemakmuran, keteguhan memegang aturan adat istiadat.

Sementara koleksi karya agung kelima di Museum Sulawesi Tengah adalah fosil rahang gajah purba (stegodon) yang ditemukan di Lembah Napu, Kabupaten Poso. Fosil ini diperkirakan berumur 1,9 juta tahun.
Muslimah menuturkan, empat dari lima koleksi itu dapat disaksikan di Museum Sulawesi Tengah yang berada di Jalan Kemiri Kota Palu.

Sementara patung Palindo hanya berupa tiruan sesuai aslinya yang berada di halaman Museum Sulawesi Tengah.

Museum Sulawesi Tengah saat ini memiliki koleksi lebih dari 7.400 benda bersejarah yang berasal dari berbagai daerah.


Pengunjung

Museum Sulawesi Tengah terus berupaya meningkatkan jumlah pengunjung untuk berperan serta memberikan pengetahuan sejarah dan kebudayaan provinsi ini.

Muslimah mengatakan bahwa pihaknya selalu mengikuti sejumlah kegiatan kesenian dan kebudayaan di sejumlah daerah dalam rangka mempromosikan museum milik Pemprov Sulawesi Tengah ini.

Museum Sulawesi Tengah juga menjalin kerja sama dengan provinsi lain untuk melakukan kegiatan budaya dan pariwisata dalam rangka lebih memperkenalkan Sulawesi Tengah ke masyarakat luas.

Rata-rata jumlah kunjungan masyarakat ke Museum Sulawesi Tengah mencapai 400 orang setiap bulan.

"Itu dalam kondisi normal, tanpa ada acara di museum," katanya.

Museum Sulawesi Tengah dibuka untuk umum pada Senin hingga Sabtu, pukul 07.30 - 15.45 setiap hari.

"Bahkan jika ada kunjungan pada hari Minggu, kami tetap melayaninya tapi sebelumnya harus menyurat terlebih dahulu," ujar Muslimah.

Selain itu, untuk lebih meningkatkan minat masyarakat berkunjung ke museum, Muslimah mengatakan pihaknya juga melakukan perkenalan ke sejumlah sekolah di Kota Palu dan sekitarnya.

Pada September 2011, kunjungan masyarakat ke Museum Sulawesi Tengah mencapai 17.500 orang karena saat itu ada kegiatan Pameran Kain Nusantara 2011 yang diikuti puluhan museum dari berbagai daerah di Indonesia.

Museum Sulawesi Tengah sendiri dibangun pada 1978 di Jalan Kemiri Kota Palu, dan saat ini memiliki lebih 7.400 koleksi.

Hingga saat ini, bangunan Museum Sulawesi Tengah masih seperti saat pertama dibangun.

"Dalam waktu dekat, museum ini akan direnovasi sehingga lebih bisa menarik masyarakat untuk berkunjung," kata Muslimah.

Kepala Dinas Periwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tengah Suaib Djafar mengatakan, museum adalah tempat wisata yang murah dan mudah dikunjungi karena berada di dalam kota.

Menurutnya, dengan mengunjungi museum masyarakat bisa lebih mengenal budaya dan karya seni Sulawesi Tengah.

"Setelah mengunjungi museum, kita bisa mendatangi tempat wisata seperti yang telah diperlihatkan di museum," katanya.

Jumlah kunjungan wisatawan ke Sulawesi Tengah, yang terdiri dari 10 kabupaten dan satu kota, setiap tahunnya mencapai 7.000 orang yang berasal dari dalam dan luar negeri. (Oleh Riski Maruto)

Baca Selengkapnya

MATI KETAWA ALA JAMAAH HAJI

Dibalik kekhusuan ibadah, ternyata banyak hal unik dan lucu dialami jamaah haji Indonesia. Berikut sejumlah cerita mati ketawa ala jamaah haji.

Seorang jamaah haji asal Purwokerto, sebut saja namanya Fulan, sedang menunggu angkutan di sebuah halte dekat maktabnya untuk ke Masjidil Haram. Setiap kali bus datang, dia mengurungkan niatnya untuk naik. Bus datang lagi, urung lagi. Datang lagi, urung lagi. Begitu seterusnya dari pagi sampai menjelang waktu zhuhur tiba.

Usut punya usut ternyata si Fulan tidak berani naik ke bus karena setiap berhenti di halte, kernetnya teriak: "Haram! Haram!".
"Si Fulan mengira kalau dia tak boleh naik ke bus karena kernetnya bilang 'Haram.Haram!' seperti kondektur Metromini Jakarta yang bilang 'Grogol.Grogol!," kata mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi sambil terkekeh-kekeh.

Saat dikasih tahu bahwa Fulan bukan tidak boleh naik bus melainkan bus itu memang jurusan Masjidil Haram, dia punya ide besar. Kelak jika kembali ke Tanah Air, dia akan bangun sebuah mesjid yang akan dia beri nama "Masjidil Halal".

"Supaya jangan ada orang terkecoh seperti saya. Dikira Haram, ternyata Halal," kata si Fulan seperti diceritakan KH. Hasyim Muzadi.

Wakil Amirul Haj itu punya banyak cerita lucu lain seputar jemaah haji karena dulu ia sering membawa rombongan jemaah dari Jawa Timur.

Mereka kebanyakan berasal dari kampung-kampung, lugu-lugu, dan baru keluar negeri untuk pertama kalinya. Ibaratnya, mereka tembak langsung ke Mekkah dari desanya di Jawa sana.

Persoalannya adalah sejak di pesawat jemaah asal ndeso itu tidak faham bagaimana menggunakan toilet. Toilet di pesawat menjadi bau karena jemaah ada yang pipis di lantai kamar mandi. Ada juga yang buang air besar tidak disiram karena tidak tahu cara menekan tombol "Flush"-nya.

Begitu juga yang terjadi di pemondokan. KH. Hasyim menemukan ada jemaah yang kencing di westafel, sehingga tempat cuci tangan dan cuci muka itu bau pesing. Jemaah yang ditanya tidak ada yang mau ngaku. Lalu ia mengumpulkan jemaahnya untuk mencari tahu siapa yang kencing tidak pada tempatnya itu.

Kyai Hasyim melakukan semacam "brainstorming" untuk meminta pendapat jemaah bagaimana kamar mandi yang bersih, khususnya urinoir yang diidamkan oleh jemaah.

"Apakah tempat kencing di pemondokan ini sudah baik?" tanya Kyai Hasyim memancing.

Seorang kakek menjawab dengan lugunya: "Sebenarnya yang sekarang sudah baik pak Kyai, cuma terlalu tinggi. Tadi pagi saya kencing susah, karena ketinggian saya bawa kursi ke kamar mandi".

Maka tahulah Kyai Hasyim siapa oknum jemaah yang kencing di westafel.


Tetap haji Saleh
Masih cerita lucu tentang jemaahnya Kyai Hasyim. Suatu ketika kyai yang pernah menjadi calon Wakil Presiden itu obrol-obrol dengan jemaah bernama Saleh yang akan berangkat haji untuk ketiga kalinya.

"Apakah sekarang ini pak Saleh hajinya Haji Ifrad atau Haji Tamattu?" tanya Kyai Hasyim.

"Bukan dua-duanya kyai. Saya tetap Haji Saleh. Nggak pernah ganti nama," jawab Saleh yang tidak mengerti apa itu Haji Ifrad atau Haji Tamattu.

Menurut Buku Pintar Calon Haji karya Fahmi Anwar, Haji Ifrad adalah mereka yang langsung mengambil haji termasuk wukuf dan melempar jumrah tanpa umroh terlebih dahulu. Sebaliknya, Haji Tamattu adalah mereka yang melakukan umroh baru kemudian mengambil hajinya.

Soal Haji Tamattu ada cerita lain yang membuat saya ketawa ngakak.

Beberapa hari lalu saya bersama Kepala Informasi dan Humas Kemenag Zubaidi meninjau kelompok jemaah haji asal Grobogan yang terkena musibah akibat bus yang ditumpangi menabrak pembatas jalan. Salah satu korban yang menderita luka parah adalah Sukirno, umur 84 tahun. Kaki kanannya patah sehingga harus dioperasi dan dipasang alat penyambung tulang.

Ketika kami menengok di kamarnya, Sukirno tergolek di tempat tidur meski kondisinya sudah jauh lebih baik. Oleh karena tidak bisa jalan, Sukirno tidak bisa banyak beribadah seperti shalat di Masjidil Haram seperti teman-temannya. Ia hanya bisa beraktifitas di seputar kamar saja.

"Pak Kirno itu Haji Tamattu: tangi, mangan, turu! Kerjaannya cuma bangun, makan dan tidur saja," kata teman sekamar Sukirno.


Seperti masa kampanye
Kebiasan buruk jemaah di Indonesia juga terbawa sampai ke Tanah Suci. Jarak antara Masjidil Haram dan pemondokan jemaah haji umumnya sekitar satu atau dua kilometer jauhnya.

Sebetulnya disediakan angkutan "shuttle bus" yang bisa antar pulang gratis. Tapi karena jemaah haji Indonesia kurang faham dan tak bisa membaca rute bus yang pakai bahasa Arab, mereka ambil jalan pintas. Mereka sewa berombongan mobil pick up yang baknya terbuka.

"Mereka rame-rame berdiri di bak terbuka seperti saat Pemilu atau kampanye presiden. Saya lihat ada yang teriak Hidup PPP segala," kata Wakil Amirul Haj KH Abdul Mu'ti saat rapat evaluasi bersama Menteri Agama Suryadharma Ali yang juga Ketua Umum PPP. Mungkin Kyai Mu?ti sekedar bercanda saja.

"Pasti yang teriak itu orang Muhammadiyah simpatisan PPP," komentar Suryadharma kepada Kyai Mu?ti yang adalah Sekjen PP Muhammadiyah. Peserta rapat yang mendengar candaan itu tertawa terbahak-bahak.

Kebiasan buruk lain yang dibawa dari Indonesia ke Tanah Suci adalah kebiasan corat coret dan vandalisme. Mereka mencorat-coret Tugu Kasih Sayang tempat pertemuan Adam dan Hawa di Jabal Rahmah dengan tulisan "X Loves Y" dengan harapan enteng jodoh atau cinta dengan pasangannya bisa kekal abadi. Mereka juga menulis macam-macam di batu-batu sekitar Gua Hira.

Bahkan yang lebih parah, kata Kyai Mu'ti, jemaah haji Indonesia juga mencorat-coret pembatas Raudah di Mesjid Nabawi dan bahkan tenda-tenda tahan api di Mina dan Arafah. Apa sih yang ditulis oleh mereka?
Salah satunya adalah tulisan berikut ini:
"Alhamdulillah ya...sudah sampai Raudah. Sesuatu banget deh!". Corat coret gaya Syahrini banget.

Ada juga yang menulis ucapan syukur bisa ke Tanah Suci. Menurut Agus Subeno, pejabat dari Badan Pusat Statistik yang juga rombongan Amirul haj, dia pernah melihat ada tulisan seperti itu di Raudah.

"Pokoknya dia tulis syukur bisa memenuhi panggilan Nabi Ibrahim. Lalu dia minta supaya sanak keluarganya bisa naik haji juga. Ditulislah nama semua anak, isteri, keponakan, dan cucu cicitnya. Panjang bener. Habis itu dikasih tanda tangan," kata ahli survei itu.


Dikentutin orang Afrika

Pengalaman unik dan lucu tidak hanya dialami jemaah, tapi juga oleh petugas haji termasuk wartawan. Seorang wartawan yang bertugas di Media Center Haji (MCH), sebut saja namanya Haji Warta, percaya betul akan hukum karma dan keajaiban-keajaiban yang bisa dialami oleh jemaah saat menjalankan ibadah haji.

Misalnya saja, kalau di Indonesia dia seorang yang murah hati suka bagi-bagi rejeki, maka di Tanah Suci tiba-tiba banyak orang tak dikenal kasih-kasih dia apa saja, dari mulai sekedar makanan, cenderamata sampai uang riyal. Ada juga wartawan yang sombong karena sudah sering ke luar negeri lalu menganggap enteng bisa pulang sendiri dari Masjidil Haram ke pemondokannya.

"Eh, dia ternyata tersesat. Biasanya wartawan memberitakan jemaah yang tersesat, ternyata wartawannya sendiri tersesat," kata Haji Warta.

Khusus hukum karma yang dia alami sendiri, Haji Warta menceritakan pengalamannya. Ia mengaku doyan kentut. Kalau sudah mau buang gas, dia tidak bisa menahan diri. Haji Warta bisa kentut dimana saja, kapan saja, dan bagi siapa saja seperti iklan minuman kaleng. Di ruang kerja kentut, saat rapat kentut, bahkan di lift dia mengaku sering kentutin orang.

"Tahu nggak pak? Di Tanah Suci saya dibalas dikentutin orang melulu," cerita Haji Warta kepada saya.

Ia mengatakan baru saja dikentutin jemaah haji berkulit hitam berbadan tinggi dan besar. Saat habis tawaf dan sedang berjalan meninggalkan Masjidil Haram, tiba-tiba seorang jemaah haji asal Afrika bergegas melewatinya. Begitu terlewati dan berada persis di depan Haji Warta, si Afika berhenti sebentar dan "brutttt...." buang gas persis ke muka Haji Warta.

"Celakanya, habis kentut begitu, dia menengok ke saya dan tersenyum-senyum. Habis itu, dia jalan begitu saja. Dargombes!," kata Haji Warta memelas.

Dargombes adalah umpatan khas Jawa Timuran untuk mengganti kata "Diancuk" yang sangat vulgar. (Oleh Akhmad Kusaeni)

Baca Selengkapnya
COPYRIGHT MUSRIADI (LANANG PENING)