Ini lah kontes burung yang pernah ada dan mungkin paling aneh sejagat rayaa..... huahahaa..... kontes ini sendiri di ikuti kurang lebih 10 ekor burung yg pastinya sudah terlatih. tempat dan lokasinya sendiri lumayan strategis dan menyenangkan, karna selain tempat berlangsung nya kontes burung, juga sebagai tempat wisata mandi bareng.... okee... klo tidak percaya, lihat gambar berikut...
Rabu, 29 Februari 2012
Kontes burung paling ANEH dan LUCU
Selasa, 28 Februari 2012
Parpol Turun dan BBM Naik

Kecewa, benci, sumpah serapah, bosan, rasa anti (antipati), muak, hingga alergi adalah seonggok rasa tidak suka kepada sesuatu. Ya, tidak suka!
Rasa itu sesungguhnya mewakili stok kesabaran yang sudah habis, tidak ada kompromi, tidak ada toleransi. Gambaran semacam itulah yang kini tercermin dalam pandangan masyarakat atau publik terhadap partai politik.
Tapi, gambaran itu bukan sekadar sikap "alergi" yang emosional, namun Lembaga Survei Indonesia (LSI-lembaga), Lingkaran Survei Indonesia (LSI-lingkaran), dan CSIS sudah melakukan survei untuk itu.
Perbandingan kesukaan masyarakat terhadap parpol dari Juni 2009 dengan Februari 2012 adalah 21 persen (2009) menjadi 13,7 persen (2012) dalam versi LSI-lembaga.
Dalam versi LSI-lingkaran mencatat 20,5 persen (2009) menjadi 13,7 persen (2012), sedangkan CSIS mencatat 20,85 persen (2009) menjadi 12,6 persen (2012). Jadi, citra parpol di mata masyarakat memang turun di kisaran 7-8 persen.
Kenapa citra parpol bisa merosot sebegitu tajam ? LSI-lembaga mencatat sentimen kepada sikap politisi dan tren negatif penegakan hukum merupakan penyebabnya.
Namun, LSI-lingkaran mencatat kasus korupsi di tubuh Partai Demokrat adalah penyebabnya, sedangkan CSIS lebih menyoroti sikap politisi sebagai penyebabnya, karena penurunan terjadi hampir pada semua parpol, kecuali PPP dan Gerinda.
"Tapi, jeleknya parpol hendaknya tidak diikuti dengan keinginan untuk membubarkan parpol, karena demokrasi itu menghendaki perimbangan kekuasaan. Kalau tidak ada parpol, maka birokrasi akan seenaknya," ucap Ketua MK Prof Mahfud MD.
Oleh karena itu, parpol sejelek apapun tetap penting. "Kalau kita tidak suka partai politik, maka kita bisa memilih gerakan politik," tukas Ketua MK Prof Mahfud MD dalam seminar pada Kongres I ISNU di Lamongan (18/2/2012).
Ketua Dewan Kehormatan PP ISNU 2012-2017 itu mengatakan gerakan politik itu antara lain organisasi kemasyarakatan seperti NU, Muhammadiyah, ISNU, dan sebagainya. Atau, LSM, media massa, dan sebagainya.
"Kalau tidak lewat parpol, maka kita ngomong lewat media massa saja sudah bisa mempengaruhi proses politik yang berlangsung. Kita pilih ngomong atas nama gerakan politik sambil menyehatkan partai politik yang ada," timpalnya.
Agaknya, "pembelaan" Prof Mahfud MD itu akan sia-sia bila parpol sendiri tidak ada ihtiar untuk melakukan revolusi yakni revolusi pola rekrutmen yang "bersih" dari politik uang !
"Saya setuju dengan Pak Marzuki Alie (Ketua DPR RI), UU Parpol perlu dibenahi dan politik juga perlu didekatkan dengan agama," tutur mantan politisi PKB dan mantan Menhan itu.
Ia mengaku mayoritas politisi di DPR itu masih baik, tapi ada sekitar 100 politisi yang tidak baik dan mereka menguasai segala lini, sehingga DPR pun terkesan jelek.
"Karena itu, pola rekrutmen parpol harus disehatkan dengan UU yang baik, misalnya negara ikut membiayai kegiatan parpol atau bahkan proses pilkada. Tapi, ajaran agama yang menjiwai juga penting, misalnya disebutkan bahwa meraih kekuasaan dengan suap itu masuk neraka, baik pelaku suap atau penerima suap," kilahnya.
Revolusi kebijakan
Bukan hanya pola rekrutmen kader parpol yang harus direvolusi, tapi parpol juga harus merevolusi keberpihakan terhadap rakyat yang diwakilinya. Atau, parpol memang ingin rakyat tetap "alergi" kepadanya hingga suara atau citra parpol benar-benar terjungkal ?!
Revolusi keberpihakan kepada rakyat itu antara lain terlihat dari "pembelaan" kepada kepentingan rakyat terkait rencana kenaikan harga BBM secara bertahap pada April mendatang. Ya, suara parpol turun, tapi harga BBM naik !
Tentu, parpol bisa saja menolak "BBM Naik" untuk mendongkrak suara/citra "Parpol Turun" dengan cara "memainkan" kemiskinan rakyat (akibat inflasi bahan kebutuhan pokok) untuk secuil simpati. Kalau menggunakan "cara murahan" seperti itu ya anak SD pun bisa.
"Subsidi BBM itu tidak mendidik, tapi kenaikan BBM itu juga harus dilakukan secara bertahap dan subsidi yang sudah ditiadakan harus dialihkan sebagai subsidi dalam bentuk pemberdayaan," tukas Kepala Pusat Studi Energi ITS, Dr Ir Prabowo M Eng, di sela-sela memandu dialog ahli energi Jepang, Dr Kenzo Tsutsumi, di Rektorat ITS (23/2).
Menurut Prabowo, "subsidi" BBM yang diubah kepada "subsidi" pemberdayaan itu penting untuk dua alasan yakni stok BBM berbentuk fosil memiliki keterbatasan waktu dan subsidi pemberdayaan justru lebih mendidik atau mempersiapkan rakyat untuk lebih dapat menjangkau harga BBM seberapa pun.
"Tapi, subsidi pemberdayaan itu bukan berbentuk ikan seperti BLT (bantuan langsung tunai), tapi harus berupa kail/pancing seperti program pelatihan wirausaha dan pendirian sentra industri UKM," kilahnya.
Intinya, kalau rakyat diberdayakan dengan diberi kail dan bukan ikan, maka dia akan sejahtera, sehingga fluktuasi harga BBM akan tetap dapat dijangkau masyarakat. "Kalau hanya BLT ya hanya sesaat, beda kalau diberi pekerjaan," katanya.
Namun demikian, katanya, kenaikan itu sebaiknya dilakukan secara bertahap, karena masyarakat kecil tidak memiliki kesiapan yang besar.
"Yang tidak kalah pentingnya adalah transparansi dan energi alternatif. Transparansi itu mencakup uang pengalihan subsidi itu untuk apa saja," kata ahli energi yang juga dosen Teknik Mesin FTI ITS itu.
Untuk kepentingan penyediaan energi, katanya, energi alternatif atau energi terbarukan hendaknya menjadi pilihan pemerintah untuk menggantikan energi fosil yang dipakai selama ini.
"Kita memiliki banyak sumber energi terbarukan, bahkan kita lebih unggul dari negara lain, misalnya energi surya, energi alternatif yang bersumber dari laut, dan banyak lagi. Yang penting jangan nuklir, karena Jepang saja sudah berupaya meninggalkan energi itu," katanya.
Senada dengan itu, dosen senior Unair yang juga Pembina Ikatan Alumni Unair Drs Mashariono MM menegaskan bahwa kenaikan BBM merupakan langkah terbaik, namun langkah itu perlu dilakukan dengan bijak.
"Caranya bisa dengan menaikkan harga BBM secara bertahap, melakukan pembatasan mobil pribadi untuk diarahkan membeli Pertamax, mendorong gas atau energi altenatif lainnya, dan membenahi moda transportasi massal, kemudian kompensasi dari kenaikan BBM itu juga harus ada," katanya.
Ia menyebutkan kompensasi paling baik adalah penyediaan lapangan kerja. "Untuk itu, pemerintah bisa mendirikan pabrik baru, sentra UKM, pelatihan UKM, dan semacam itu," kata ahli ekonomi Unair yang juga dosen STIESIA Surabaya itu.
Ya, parpol tidak boleh memanfaatkan "BBM Naik" sebagai isu untuk menaikkan suara/citra "Parpol Turun", karena orang-orang parpol bukanlah anak kecil, namun justru mendorong revolusi kebijakan yang solutif dan bukan kebijakan "bongkar-pasang" yang akhirnya membuat rakyat bisa "alergi" lagi.
(T.E011/E001)
Sumber : ANTARA BENGKULU
Lagi Galau, kau kuserang

Ngejreng sebagai film drama keluarga tahun 1980-an, "Bonanza", dengan latar dunia koboi berusaha ngotot memikat publik global semasanya dengan melego rasa damai di tengah aksi baku tembak berlogo "Welcome to the Ponderosa".
Empat pria koboi dengan beragam usia, sebut saja Ben Cartwright yang diperankan oleh Lorne Greene sebagai kepala keluarga, dan ketiga putranya, yakni Adam (Pernell Roberts), Hoss (Dan Blocker), dan Little Joe (Michael Landon), mengesankan bahwa di tengah dunia serba dar, der, dor, milikilah hati yang damai dan nurani yang bening.
Sempat dituding sebagai "junk TV", karena film serial Bonanza dianggap sebagai kampanye kelompok tuan tanah, film itu terus dipompa sebagai kampanye mujarab memberantas kepura-puraan. Pura-pura berdamai, padahal hati mendendam. Pura-pura bersuka cita, padahal nurani doyan bohong.
Penuh kepuraan-puraan awal dari premanisme yang berbuah ketidaktenteraman. Kepura-kepuraan, meminjam narasi dunia jejaring sosial anak baru gede, dilafalkan sebagai "Aku galau, kau kuserang." Ups...begitu?
Saksikan sendiri aksi premanisme belakangan ini. Upaya tiada henti menggeledah kepura-puraan sana sini dari berbagai kasus korupsi di negeri ini seakan tercekat ketika tersembul aksi kekerasan antar manusia sebagai luapan hasrat purba dari sang makhluk citra Ilahi.
Aku galau, kau kuserang. Manusia saling membantai dan saling meluapkan kebencian dengan baku bunuh. Darah tertumpah, kolong langit basah oleh percik darah sesama.
Mereka saling berselisih paham kemudian berujar di gelanggang kata, Aku galau, kau kuserang. Kosa kata mereka tiga saja: habisi, habisi, habisi.
Baku serang kemudian baku bunuh. Dua orang dibantai di Rumah Duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Sekitar pukul 02.30 WIB, sekelompok orang menyerang belasan pelayat di Ruang A, Rumah Duka RSPAD. Mereka datang bersekutu dengan menumpang taksi. Mereka bersenjatakan parang. Dan, parang itu berkata-kata.
Darah lagi-lagi tertumpah. Syaiful Munif, 13 tahun, siswa kelas 6 SDN Cinere 01 Depok, Jawa Barat, ditusuk oleh Am (13) sebanyak 11 kali pada bagian vitalnya. Korban selamat, kondisi Syaiful sampai Jumat (23/2) sudah membaik. Tim medis Rumah Sakit Fatmawati menyatakan korban selamat karena kebesaran Tuhan.
Spiral kekerasan berbalut kebencian beraksi. Publik menyebutnya sebagai aksi hati galau lalu menyerang sesama. Pemimpin kelompok pemuda asal Pulau Kei, Maluku, John Kei dicokok di kamar 501 Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur, Jumat malam (17/2). Ia terkait kasus pembunuhan Direktur Utama PT Sanex Steel Indonesia Tan Harry Tantono alis Ayung.
Untuk memutus aksi kekerasan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta aparat keamanan lebih aktif mengantisipasi aksi kekerasan, memberantas slogan maut pemupus nyawa
"Saya sudah menyampaikan beberapa kali, sangat ingin aparat keamanan menghentikan aksi kekerasan yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa tempat. Laksanakan antisipasi dengan benar, tangani secara profesional, dan selesaikan itu dengan tuntas," kata Yudhoyono.
Dilancarkanlah operasi keamanan, salah satunya Operasi Kilat Jaya 2012 untuk menumpas premanisme dan membumihanguskan rasa hati yang merasa galau lalu menyerang sesamanya. Meskipun gerombolan perampok bersenjata senapan dan martil masih saja mengancam publik di kawasan bandara, pelabuhan, terminal bus, dan pertokoan.
Mengapa premanisme masih saja meneror publik? "Premanisme telah mengakar dan menjamur. Kalau polisi tidak tidak tegas dan konsisten, ini akan berlanjut dan labih brutal lagi," kata pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar.
Di Mabes polri, Kapolri Jenderal Timur Pradopo berjanji akan memberantas premanisme. "Polri tidak sanggup bertindak sendirian. Masyarakat harus ikut berpartisipasi, " kata Kapolri menegaskan.
Anatomi dari hati galau, yakni menyerang sesama atau memilih berpura-pura, itulah rumus premanisme di era jejaring sosial. Dengan menyerang penentang, mereka berusaha memperlihatkan bahwa dirinya adalah orang yang harus seakan-akan perlu dihormati, karena itu perlu formula kata-kata yang menyanjung citra diri.
Dengan menggunakan bahasa, rasa galau menyambangi sosok rentan untuk memperoleh pengakuan diri. Hasrat akan pengakuan (desire of recognition), menurut filsuf Hegel, lantas dijelaskan sebagai hasrat seseorang untuk mendapatkan pengakuan dari sesamanya, lewat kegiatan berbahasa.
Pelaku premanisme berusaha terus mendapatkan kepastian dirinya lewat kegiatan berbahasa. Sejarawan Kojeve berujar bahwa pemenuhan hasrat negativitas dalam penghancuran akan sesamanya bermuara dari krisis diri, krisis pengakuan akan diriku sebagai "aku".
Nah, premanisme bermuara dari krisis berbahasa, krisis diri yang terus mematut-matut diri di cermin yang retak, bahwa Aku galau, maka kau kuserang. "Welcome to the Ponderosa". Selamat datang di dunia Bonanza.
(T.A024/Z003)
Sumber : ANTARA BENGKULU
Teknik penanganan bencana

Kegiatan ekstrakurikuler kesiapsiagaan terhadap bencana di kalangan pelajar sekolah dasar merupakan hal yang mengasyikan karena selain belajar teknis penanganan bencana mereka juga bisa bermain.
"Kesiapsiagaan terhadap bencana ini sudah kami masukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler siswa yang dilaksanakan pada hari libur dan hari Minggu. Di sini siswa dapat belajar sekaligus bermain dengan pelajar lainnya," kata Hendriyati, fasilitator kesiapsiagaan bencana SDN 06 Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejanglebong, yang dijadikan sekolah percontohan nasional untuk wilayah Provinsi Bengkulu, Selasa.
Pada kegiatan tersebut kata dia, siswa diajari cara menyelamatkan melalui jalur-jalur evakuasi yang ada di daerah itu, kemudian menolong orang lain dan mencari bantuan saat terjadi bencana alam gempa bumi atau gunung meletus sehingga jika terjadi bencana serupa mereka dapat mempraktikkannya.
Dari 218 orang siswa di sekolah itu saat ini yang sudah mengikuti pelatihan simulasi bencana dan penanggulanggan baru pada 28 orang berasal dari kelas IV hingga kelas VI, sedangkan mulai tahun ini kegiatan itu akan melibatkan seluruh kelas.
Selain berlatih memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), mereka juga bisa bermain monopoli siaga bencana dan kegiatan pramuka yang hampir mirip satu dengan lainnya sehingga mereka dapat mengikuti kegiatan tersebut karena tidak akan mengurangi prestasi pelajaran pokok di sekolah.
Sekolah itu sendiri sejak 2009/2010 sudah dijadikan sekolah siaga bencana (SSB) bersama dengan 18 sekolah lainnya di Rejanglebong oleh PMI setempat bekerja sama dengan palang merah Jerman (GRC).
Tidaklah sulit untuk menjalankannya. Mereka juga siap memberikan pelajaran ke sekolah lainnya mengingat teknis penanganan bencana alam terutama gunung meletus harus mereka pelajari setiap saat mengingat wilayah desa mereka yang berada di kaki gunung api Bukit Kaba.
Sementara itu Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia (PMI) bidang PMR dan relawan Muhammad Muas mengatakan, terpilihnya SDN 06 Desa Sumber Urip menyisihkan 75 sekolah lainnya di Bengkulu mulai dari tingkat SD hingga SMA.
"Sekolah ini merupakan yang terbaik dan terlengkap di Bengkulu dan di Indonesia setelah sekolah yang ada Jawa Tengah," katanya.
Selain itu sekolah ini juga dipilih karena dekat dengan lokasi rawan bencana yakni Gunung Api Bukit Kaba sehingga dijadikan percontohan sekolah siaga bencana nasional, terangnya.
(KR-NMD/I016)
Sumber : ANTARA BENGKULU